Pages

Saturday, October 1, 2011

senandung hati kala C.I.N.T.A manyapa

disaat cinta hadir menguji imanku
kadang ku tak kuasa menahan gejolak rasa
disaat cinta hadir menghampiri diriku
ku lantunkan doa bagi Sang Pencinta

ALLAH...jika dia memang yang terbaik bagiku
baik bagi dunia dan akhiratku
dekatkan dia bagiku, dekatkan aku baginya
mudahkan bagi kami menuju janji suci
sebuah pernikahan hakiki

tapi bila dia kan menghancurkan imanku
lepaskan darinya, lepaskan aku darinya.....

Friday, September 30, 2011

Tugu Jogja :)

dari padang, riau, jabar, jadetabek, jatim, jateng sampai ke sulsel

sebelum rakernas :)
bonus dari rakernas adalah : berkumpul dengan sahabat fosma se-Indonesia, foto dan jalan-jalan, inilah yang akan kita rindukan kawan :)

Wahai Pemuda BERGERAKlah!

Pemuda adalah Generasi Emas Bangsa ini. Pemuda mempunyai kekuatan yang lebih secara fisik dan semangat bila dibanding dengan anak kecil atau orang-orang jompo, pemuda memiliki potensi yang luar biasa, bisa dikatakan seperti dinamit bila diledakan. Hasan Al Banna seorang tokoh pergerakan di Mesir pernah berkata, "Di setiap kebangkitan pemuda yang menjadi pilarnya, di setiap pemikiran pemuda menjadi pengibar panji-panjinya." Para pemuda memang sering menjadi pelopor perubahan. Pemuda juga merupakan salah satu pilar peradaban yang sangat penting. Islam pun mengakui posisi kaum muda yang sangat strategis. Usia muda, menurut al-Quran merupakan usia yang penuh kekuatan, usia yang terletak antara dua fase kelemahan.

Kaum muda diperlukan bagi perubahan sebagai kekuatan pendobrak kelemahan dan ketidakbenaran nilai menjadi dinamis berorientasi pada keluhuran budi yang hakiki atau akhlakul karimah melalui kekuatan tauhid. Tapi disisi lain, kaum muda tidak selalu identik dengan prestasi. Sebab bersamaan dengan potensi besar yang dimilikinya, pemuda juga cenderung tergesa-gesa, terlalu bersemangat, dan lebih mudah jatuh pada pola pikir instan. Biasanya hal tersebut melalui godaan dinamika kehidupan yang dianggap modern padahal bisa terjadi bagaikan jebakan sarang laba-laba.

Dalam menghadapi tantangan global kaum muda harus muncul dengan jati dirinya sebagai kaum muda yang berwatak. Menghadapi perkembangan perlu ada gereget program yang dimunculkan oleh dirinya sendiri. Dalam keadaan dunia yang terus bergoncang, kaum muda meningkatkan kecerdasannya sehingga mampu berkompetisi di Internasional, yaitu meningkatkan keempat kecerdasan Intelektual, EMosioanl, Spiritual dan Financial.

Pemuda hebat bukan pemuda yang mengandalkan kehebatan orang tuanya dengan kata-kata "Jangan macam-macam dengan gue, bapak gue pejabat, bentar lagi elu elu dan elu semuanya akan lihat gue jadi kaya dan punya posisi bagus." Bukan seperti itu, tapi pemuda yang hebat dan berjiwa besar adalah pemuda yang berkata, "inilah diri" atau menjadi diriku dengan segala kekurangan."

Sebagai generasi muda yang ingin berpartisipasi aktif dalam memajukan bangsa, saya berusaha merubah bangsa ini mulai dari hal yang terkecil yaitu diri untuk menjadi lebih baik menjadi pemuda hebat yang memiliki jati diri. Aktif mengikuti kegiatan kegiatan sosial dan kepemudaan untuk memajukan bangsa ini. Saya akan terus BERGERAK melakukan yang terbaik untuk bangsa ini tidak hanya sekedar kata-kata, ACTION, BERGEREAK atau TERGANTIKAN!!!

Membangun Sinergisitas dalam meningkatkan kinerja FOSMA 165 Menuju Indonesia Emas 2020


Mahasiswa boleh saja dianggap sebagai kaum intelektual, tetapi bukan berarti lebih menitikberatkan pada kemampuan intelektual saja, namun juga harus dapat diselaraskan dengan kemampuan emosional dan spiritual agar nantinya diharapkan mampu memiliki kehidupan di dunia maupun di kehidupan yang akan datang yang jauh lebih baik.
Fosma 165 Nasional adalah Forum Silaturahmi Mahasiswa 165 se-Indonesia, yang membahawi Fosma Wilayah, Daerah dan Komisariat yang ada si seluruh Indonesia. Pada hari Sabtu-Minggu, 17-18 September kemarin Fosma 165 Nasional mengadakan RAKERNAS (Rapat Kerja Nasional) yang pertaman kali di Wisma Martha Daerah Istimewa Yogyakarta. Rapat Kerja yang dimulai dari Sabtu pagi ini dihadiri oleh struktur organisasi Fosma 165 Nasional yang terdiri dari pengurus harian Fosma 165 Nasional yang terdiri dari Ketua Fosma Nasional (Sukma Maulana, Bandung), Wakil Ketua (Dyan Harya Seta, DIY), Kepala Regional (Puput Rusianingtyas, Purwokerto), Bendahara (Novianne, Jadetabek), Sekretaris (Jawa Tengah). Kemudian Tim Regional yang terdiri dari 4 Regional yaitu Regional 1 yang meliputi seluruh pulau Sumatra diwakili oleh coordinator Regionalnya (Taufik Efendi, Padang), Regional II yang meliputi seluruh pulau Jawa diwakili oleh koordinator regional II (Helmy Yunan, Jatim), Regional IV yang meliputi seluruh pulau Sulawesi dan NTB diwakili oleh Sekjen Fosma Sulse (Zoel, Makassar), dari keempat regional hanya satu regional yang absen dikarenakan beberapa hal. Kemudian lima departemen Fosma 165 Nasional yang terdiri dari Departemen keorganisasian, Jawa Barat diwakili oleh Ketua Fosma Jabar Yudi andiana, Departemen Hubungan Antar Lembaga, Jadetabek diwakili oleh Rusdi, Departemen Sosial Kemasyarakatan, Riau diwakili oleh Ketua dan Sekjen Fosma Riau M.Subhan dan Imam, Departemen Ekonomi, Jawa Tengah diwakili oleh Ketua Fosma Jateng Munawar Bagus dan Kadept Ekonomi Dayu Ajie.
Rangkaian Kegiatan Rapat Kerja Nasional berjalan lancar panitia sebagai tuan rumah Fosma 165 DIY mempersiapkan segala kebututuhan rapat kerja dan peserta dengan baik. Sebagai tuan rumah Fosma DIY sangat ramah. Rapat Kerja Nasional yang berakhir pada hari Minggu pukul 19.00 WIB itu diakhiri dengan menyaanyikan lagu Indonesia Raya sebagai wujud nasionalisme dan doa sebagai wujud syukur. Rakernas Fosnas 2011 yang bertemakan Membangun Sinergisitas dalam meningkatkan kinerja FOSMA 165 Menuju Indonesia Emas 2020 menghasilkan beberapa kebijakan dan program kerja departemen serta road map Fosma 165 Nasional.

Harapan Setelah Rakernas :
“Bukti Fosma Nasional berhasil dapat dilihat satu tahun ini semoga satu tahun terakhir dapat  menjadi pelajaran dan satu tahun kedepan menjadi semangat menuju Indonesia Emas 2020” Sukma Maulana, Ketua Fosma Nasional

“ Sangat excited dengan program kerja dan kebijakan Fosnas bagus dan semoga dapat terealisasi”  Anindita Diniari, Sekretaris Fosma DIY

yap! BERGERAK atau TERGANTIKAN kawan!!!
day one

day two

Saturday, August 6, 2011

Tips Mengatasi Godaan

Tips Mengatasi Godaan Pra-Nikah :)

1. Perkuat Benteng Iman dan Taqwa
Allah Swt. berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Dan ciri orang yang bertakwa dijelaskan dalam ayat-Nya berikut ini.

الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ وَهُمْ مِنَ السَّاعَةِ مُشْفِقُونَ

“ Yaitu) orang yang takut (azab) Tuhannya sekalipun mereka tidak melihat-Nya, dan mereka merasa takut akan tibanya hari kiamat.”
(Q.S. Al-Anbiyaa’ [21]: 49)

2. Yakin Bahwa Allah Selalu Melihat Setiap Saat
Dalam salah satu ayat-Nya, Allah berfirman,

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang hadir.” (Q.S. Qaaf [50]: 18)

Selain itu, Rasulullah Saw. juga pernah bersabda tentang ihsan. Sabda beliau, “Ihsan adalah engkau menyembah atau mengabdi kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika kamu tidak dapat melihatNya, sesungguhnya Dia melihat kamu.”

3. Konsisten Menjaga Pergaulan dan Saling MengingatkanRasulullah Saw. pernah bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka sekali-kali jangan berduaan (berkhalwat) dengan seorang wanita di tempat yang sunyi, sesungguhnya setan akan menjadi pihak ketiganya.”
(H.R. Ahmad)
Hendaknya, orang yang sedang dalam masa antara khitbah dan nikah harus mampu menjaga lisan agar tidak berbicara yang mengandung unsur dosa, menjauhi kontak fisik atau bersentuhan, saling menjaga pandangan mata, aurat, dan kemaluan.

4. Mendamba Syahid di Jalan Cinta
Apabila manusia berusaha dengan segenap tenaga untuk meredam keinginan berbuat negatif karena takut kepada Allah semata, maka tidak ada balasan yang layak baginya kecuali surga. Orang seperti ini akan menemukan kedamaian, ketenteraman, kenyamanan dengan cinta yang derajatnya lebih tinggi yang akan mampu menyelamatkannya di dunia dan akhirat.
Rasulullah Saw. bersabda: “Ada tiga hal yang barangsiapa berada di dalamnya, ia akan mendapatkan kelezatan iman, yaitu hendaklah menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari lainnya. Hendaklah mencintai seseorang hanya karena Allah. Hendaklah membenci untuk kembali kepada kekafiran, sebagaimana ia tak suka dilemparkan ke dalam api neraka.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Wallahu ‘alam bisawab.

lamaranmu ku TOLAK!!!

Mereka, lelaki dan perempuan yang begitu berkomitmen dengan agamanya.Melalui ta’aruf yang singkat dan hikmat, mereka memutuskan untuk melanjutkannya menuju khitbah. Sang lelaki, sendiri, harus maju menghadapi lelaki lain: ayah sang perempuan. Dan ini, tantangan yang sesungguhnya. Ia telah melewati deru pertempuran semasa aktivitasnya di kampus, tetapi pertempuran yang sekarang amatlah berbeda. Sang perempuan, tentu saja siap membantunya.

Memuluskan langkah mereka menggenapkan agamanya. Maka, di suatu pagi, di sebuah rumah, di sebuah ruang tamu, seorang lelaki muda menghadapi seorang lelaki setengah baya, untuk ‘merebut’ sang perempuan muda, dari sisinya.

“Oh, jadi engkau yang akan melamar itu?” tanya sang setengah baya.
“Iya, Pak,” jawab sang muda.

“Engkau telah mengenalnya dalam-dalam? ” tanya sang setengah baya sambil menunjuk si perempuan.
“Ya Pak, sangat mengenalnya, ” jawab sang muda, mencoba meyakinkan.
 “Lamaranmu kutolak. Berarti engkau telah memacarinya sebelumnya? Tidak bisa. Aku tidak bisa mengijinkan pernikahan yang diawali dengan model seperti itu!” balas sang setengah baya.

Si pemuda tergagap, “Enggak kok pak, sebenarnya saya hanya kenal sekedarnya saja, ketemu saja baru sebulan lalu.”
 “Lamaranmu kutolak. Itu serasa ‘membeli kucing dalam karung’ kan, aku tak mau kau akan gampang menceraikannya karena kau tak mengenalnya.
Jangan-jangan kau nggak tahu aku ini siapa?” balas sang setengah baya, keras.

Ini situasi yang sulit. Sang perempuan muda mencoba membantu sang lelaki muda. Bisiknya, “Ayah, dia dulu aktivis lho.”
“Kamu dulu aktivis ya?” tanya sang setengah baya.
“Ya Pak, saya dulu sering memimpin aksi demonstrasi anti Orba di Kampus,” jawab sang muda, percaya diri.
 “Lamaranmu kutolak. Nanti kalau kamu lagi kecewa dan marah sama istrimu, kamu bakal mengerahkan rombongan teman-temanmu untuk mendemo rumahku ini kan?”
“Anu Pak, nggak kok. Wong dulu demonya juga cuma kecil-kecilan. Banyak yang nggak datang kalau saya suruh berangkat.”
 “Lamaranmu kutolak. Lha wong kamu ngatur temanmu saja nggak bisa, kok mau ngatur keluargamu?”

Sang perempuan membisik lagi, membantu, “Ayah, dia pinter lho.”
“Kamu lulusan mana?”
“Saya lulusan Teknik Elektro UGM Pak. UGM itu salah satu kampus terbaik di Indonesia lho Pak.”

“Lamaranmu kutolak. Kamu sedang menghina saya yang cuma lulusan STM ini tho? Menganggap saya bodoh kan?”
“Enggak kok Pak. Wong saya juga nggak pinter-pinter amat Pak. Lulusnya saja tujuh tahun, IPnya juga cuma dua koma Pak.”
“Lha lamaranmu ya kutolak. Kamu saja bego gitu gimana bisa mendidik anak-anakmu kelak?”

Bisikan itu datang lagi, “Ayah dia sudah bekerja lho.”
“Jadi kamu sudah bekerja?”
“Iya Pak. Saya bekerja sebagai marketing. Keliling Jawa dan Sumatera jualan produk saya Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Kalau kamu keliling dan jalan-jalan begitu, kamu nggak bakal sempat memperhatikan keluargamu.”
 “Anu kok Pak. Kelilingnya jarang-jarang. Wong produknya saja nggak terlalu laku.”
“Lamaranmu tetap kutolak. Lha kamu mau kasih makan apa keluargamu, kalau kerja saja nggak becus begitu?”

Bisikan kembali, “Ayah, yang penting kan ia bisa membayar maharnya.”
“Rencananya maharmu apa?”
“Seperangkat alat shalat Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Kami sudah punya banyak. Maaf.”
 “Tapi saya siapkan juga emas satu kilogram dan uang limapuluh juta Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Kau pikir aku itu matre, dan menukar anakku dengan uang dan emas begitu? Maaf anak muda, itu bukan caraku.”

Bisikan, “Dia jago IT lho Pak”
“Kamu bisa apa itu, internet?”
“Oh iya Pak. Saya rutin pakai internet, hampir setiap hari lho Pak saya nge-net.”
 “Lamaranmu kutolak. Nanti kamu cuma nge-net thok. Menghabiskan anggaran untuk internet dan nggak ngurus anak istrimu di dunia nyata.”
“Tapi saya ngenet cuma ngecek imel saja kok Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Jadi kamu nggak ngerti Facebook, Blog, Twitter, Youtube? Aku nggak mau punya mantu gaptek gitu.”

Bisikan, “Tapi Ayah…”

“Kamu ke sini tadi naik apa?”
“Mobil Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Kamu mau pamer tho kalau kamu kaya. Itu namanya Riya’. Nanti hidupmu juga bakal boros. Harga BBM kan makin naik.”
“Anu saya cuma mbonceng mobilnya teman kok Pak. Saya nggak bisa nyetir”
“Lamaranmu kutolak. Lha nanti kamu minta diboncengin istrimu juga? Ini namanya payah. Memangnya anakku supir?”

Bisikan, “Ayahh..”

“Kamu merasa ganteng ya?”
“Nggak Pak. Biasa saja kok”
“Lamaranmu kutolak. Mbok kamu ngaca dulu sebelum melamar anakku yang cantik ini.”
“Tapi pak, di kampung, sebenarnya banyak pula yang naksir kok Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Kamu berpotensi playboy. Nanti kamu bakal selingkuh!”

Sang perempuan kini berkaca-kaca, “Ayah, tak bisakah engkau tanyakan soal agamanya, selain tentang harta dan fisiknya?”

Sang setengah baya menatap wajah sang anak, dan berganti menatap sang muda yang sudah menyerah pasrah.

“Nak, apa adakah yang engkau hapal dari al-Quran dan Hadits?”

Si pemuda telah putus asa, tak lagi merasa punya sesuatu yang berharga.
Pun pada pokok soal ini ia menyerah, jawabnya, “Pak, dari tiga puluh juz saya cuma hapal juz ke tiga puluh, itupun yang pendek-pendek saja. Hadits-pun cuma dari Arba’in yang terpendek pula.”

Sang setengah baya tersenyum, “Lamaranmu kuterima anak muda. Itu cukup. Kau lebih hebat dariku. Agar kau tahu saja, membacanya saja pun, aku masih tertatih.”

Mata sang muda ikut berkaca-kaca

http://pacaranislamikenapa.wordpress.com