Pemuda adalah Generasi Emas Bangsa ini. Pemuda mempunyai kekuatan yang lebih secara fisik dan semangat bila dibanding dengan anak kecil atau orang-orang jompo, pemuda memiliki potensi yang luar biasa, bisa dikatakan seperti dinamit bila diledakan. Hasan Al Banna seorang tokoh pergerakan di Mesir pernah berkata, "Di setiap kebangkitan pemuda yang menjadi pilarnya, di setiap pemikiran pemuda menjadi pengibar panji-panjinya." Para pemuda memang sering menjadi pelopor perubahan. Pemuda juga merupakan salah satu pilar peradaban yang sangat penting. Islam pun mengakui posisi kaum muda yang sangat strategis. Usia muda, menurut al-Quran merupakan usia yang penuh kekuatan, usia yang terletak antara dua fase kelemahan.
Kaum muda diperlukan bagi perubahan sebagai kekuatan pendobrak kelemahan dan ketidakbenaran nilai menjadi dinamis berorientasi pada keluhuran budi yang hakiki atau akhlakul karimah melalui kekuatan tauhid. Tapi disisi lain, kaum muda tidak selalu identik dengan prestasi. Sebab bersamaan dengan potensi besar yang dimilikinya, pemuda juga cenderung tergesa-gesa, terlalu bersemangat, dan lebih mudah jatuh pada pola pikir instan. Biasanya hal tersebut melalui godaan dinamika kehidupan yang dianggap modern padahal bisa terjadi bagaikan jebakan sarang laba-laba.
Dalam menghadapi tantangan global kaum muda harus muncul dengan jati dirinya sebagai kaum muda yang berwatak. Menghadapi perkembangan perlu ada gereget program yang dimunculkan oleh dirinya sendiri. Dalam keadaan dunia yang terus bergoncang, kaum muda meningkatkan kecerdasannya sehingga mampu berkompetisi di Internasional, yaitu meningkatkan keempat kecerdasan Intelektual, EMosioanl, Spiritual dan Financial.
Pemuda hebat bukan pemuda yang mengandalkan kehebatan orang tuanya dengan kata-kata "Jangan macam-macam dengan gue, bapak gue pejabat, bentar lagi elu elu dan elu semuanya akan lihat gue jadi kaya dan punya posisi bagus." Bukan seperti itu, tapi pemuda yang hebat dan berjiwa besar adalah pemuda yang berkata, "inilah diri" atau menjadi diriku dengan segala kekurangan."
Sebagai generasi muda yang ingin berpartisipasi aktif dalam memajukan bangsa, saya berusaha merubah bangsa ini mulai dari hal yang terkecil yaitu diri untuk menjadi lebih baik menjadi pemuda hebat yang memiliki jati diri. Aktif mengikuti kegiatan kegiatan sosial dan kepemudaan untuk memajukan bangsa ini. Saya akan terus BERGERAK melakukan yang terbaik untuk bangsa ini tidak hanya sekedar kata-kata, ACTION, BERGEREAK atau TERGANTIKAN!!!
I'm sure that I can be one of those bright and chosen special treated diamond...:D Semangat boi! Man jadda wajada! saajtahidu fauqa mustawa al-akhar!
Showing posts with label Indonesia banged. Show all posts
Showing posts with label Indonesia banged. Show all posts
Friday, September 30, 2011
Saturday, December 4, 2010
surat untukmu (dari note yang ditulis sahabatku)
Tasikmalaya, 29 Nopember 2010
Apa kabar negaraku…?
Hari ini aku kangen banget sama kamu, Terimakasih ya, karena disinilah aku dan semua keluargaku tinggal, sahabatku, saudaraku, teman, cinta dan semuanya…
Negaraku, aku rindu sekali dengan dirimu, rindu dengan kelembutan hati para penghuni tanah airmu, rindu tentang nilai nasionalisme yang selalu tertancap dalam hati setiap pnghunimu ketika dwi warnamu dikibarkan, rindu akan semangatnya para mahasiswa yang selalu membela aspirasi rakyat…
Rindu dengan kemerdekaanmu…
Negaraku, mungkin aku belum bisa berbuat banyak untukmu, mungkin aku bekum bisa mengharumkan tanah airmu, tapi aku janji suatu saat nanti aku akan membuat dirimu dikenal oleh semua orang berkat jasaku… aku bersumpah demi dirimu…
Negaraku, aku janji, aku tidak akan pernah lagi meneteskan air mata karena apa yang terjadi di dalam tubuhmu belakangan ini, aku akan terus tersenyum dan terus bangga padamu…
Negaraku, sangat berat bila harus menerima kenyataan yang ada dalam tubuhmu saat ini, tapi sekali lagi aku tidak akan pernah malu untuk membelamu, mau sehancur apapun dirimu, sebobrok apapun orang-orang yang memimpinmu, tetap Indonesiaku yang kubanggakan…
Negaraku, inget gak waktu itu tanahmu aku tikam dengan belatiku guna menancapkan tiang bendera kelompok Pencinta Alam yang aku ada sebagai anggotanya, aku tidak tau saat itu kamu merasakan sakit seperti apa, tapi di puncak gunung itu aku yakin kamu merasa tersakiti oleh tajamnya belatiku, maafkan aku ya…
Negaraku, inget gak waktu itu aku pernah membuat airmu tersendat karena sampah plastik yang kubuang ketika aku pulang dari sekolah, aku tidak bisa membayangkan betapa sakitnya tenggorokanmu ketika air yang mengalir itu aku sumbat dengan sampah-sampah kotor itu, maafkan aku negaraku, maafkan aku Indonesia…
Negaraku, mungkin itu hanya aku, tapi aku yakin diluar sana ada yang lebih banyak lagi berbuat tidak adil padamu, maafkan mereka negaraku, ampuni mereka negaraku, do’akan mereka supaya mereka sadar kalau apa yang mereka lakukan itu salah…
Do’akan mereka negaraku, jangan kau marah pada mereka, karena mereka juga mungkin tidak tau setan apa yang merasuki mereka?
Tapi aku yakin, tanpa aku meminta maaf padamu juga, kamu sudah sangat sayang padaku, setiap hari kau memberiku warna langit yang indah, setiap hari kau memberiku udara yang sejuk, setiap hari kau memberiku udara yang luar biasa segarnya, sehingga aku tidak pernah merasa tersesak, bahkan setiap hari airmu aku teguk dengan penuh semangat dan tanahmu aku pijak dari semenjak dulu sampai sekarang dan kau masih tetap kokoh…
Negaraku, kau memang terlalu baik padaku…
Beberapa bulan yang lalu aku berangkat ke ibu kotamu, aku datang ke bundaran HI, melihat patung selamat datang, dan pada waktu berkumpul lebih dari lima puluh ribu wargamu untuk memperingati hari kebangkitan moral bangsa, aku terharu pada waktu itu, karena masih banyak orang-orang yang mencintaimu karena-NYA…
Negaraku, mungkin aku bukan termasuk pejuang reformasi atau pejuang kemrdekaanmu, tapi aku selalu cinta padamu, percaya dech…. Hehehehe
Negaraku, kamu selalu bilang kepadaku “bhineka tunggal ika” yang berarti “berbeda-beda tetapi tetap satu jua”, ya itulah kamu negaraku, begitu banyak pulau yang ada dalam pangkuanmu, begitu banyak bahasa yang kau pegang, adat yang kau jungjung, budaya yang kau jaga, serta bangsa yang kau lindungi, tapi kau tetap mempertahankan semuanya dan membentengi mereka dengan benteng INDONESIA…
Negaraku, aku tau beberapa waktu belakangan ini terjadi bencana besar menimpa dirimu, di Sumatera, di Merapi, dan di Wasior, dan aku melihat kehancuran demi kehancuran disana, tidak sedikit nyawa yang hilang, dari berita-berita juga banyak diceritakan kerusakan yang dahsyat dimana-mana, tapi yang membuat aku bangga dan selalu meneteskan air mata yaitu rakyatmu, mereka dari segala lapisan dengan cepat mengirim bala bantuan apa saja. Sumbangan yang di buka oleh beberapa statsiun TV hanya dalam hitungan jam bisa terkumpul mencapai belasan milyar.
Aku bahkan sampai geleng-geleng kepala sendiri seklaigus bangga, ternyata dirimu masih ada, rakyatmu yang kata dunia di anggap sebagai manusia yang acuh tak acuh ternyata masih suka membantu satu sama lain, dimana-mana, di seluruh kota besar di Indonesia posko kemnusiaan untuk bantuan berdiri di jalan-jalan, bahkan murid SD dan TK ikut mengumpulkan sumbangan. Aku sampai terharu sendiri, sampai kaget sendiri. Ternyata bencana yang kau rasakan ini mampu memberikan banyak pelajaran berharga dan memberitahukan pada dunia kalau rakyat di Indonesia masih merasa satu, Tanah Air ini masih ada, setiap orang masih peduli saudara sebangsanya.
Negaraku, pernah ada rakyatmu yang bilang kepadaku, “ mudah untuk menjadi sarjana yang baik, ahli hukum yang baik, guru yang baik, arsitek yang baik, pebisinis yang baik, bahkan mentri yang baik, tapi susah sekali menjadi orang yang baik. Karena itu aku hanya ingin menjadi orang baik dan sangat baik bahkan lebih dari sekedar baik, aku ingin menjadi orang yang berguna, orang yang berguna di atas yang terbaik, untuk dirimu….
Aku sambil nulis sambil denger lagu juga ya, hehehehehe
Open File… my music… lagu nasionalis-cokelat-Bendera
Speaker selected… play… Bendera. Cokelat.
Biar saja ku tak sehebat matahari
Tapi slalu kucoba tuk menghangatkanmu
Biar saja ku tak setegar batu karang
Tapi slalu kucoba tuk melindungimu
“Suatu kehormatan bagiku bisa hidup dalam pangkuan ibu pertiwimu, saya Pandu Rahayu seseorang yang mencintai Tanah Air ini…”
Biar saja ku tak seharum bunga mawar
Tap selalu kucoba tuk mengharumkanmu
Biar saja ku tak seelok langit sore
Tapi selalu kucoba tuk mengindahkanmu
“Sekali lagi saya Pandu Rahayu, dengan bangga mencintaimu Indonesiaku, mencintaimu sepenuhnya… saya mencintai megri indah ini dengan gugusan pulaunya sampai saya mati dan menyatu dengan tanah tercinta ini.”
Kupertahankan kau… demi kehormatan bangsa…
Kupertahankan kau… demi tunmpah darah…
Semua pahlawan-pahlawanku…
“dan selama ribuan langkah kaki ini, selama hati ini bertekad, hingga semuanya bisa terwujud sampai disini, takkan pernah sekalipun aku menyerah mengejar mimpiku, saya Pandu Rahayu, saya mencintai tanah ini dengan seluruh hati saya.”
Merah putih teruslah kau berkibar…
Di ujung tiang tertinggi…
Di Indonesiaku ini…
“saya Pandu Rahayu… saya bangga bisa berada disini bersama para rakyatnya, saya akan mencintai tanah air ini seumur hidup saya, saya akan menjaganya, dengan apapun yang saya punya, saya akan menjaga kehormatannya seperti saya menjaga diri saya sendiri. Seperti saya akan selalu menjaga mimpi-mimpi saya terus hidup bersama tanah air tercinta ini.”
Merah putih… teruslah kau berkibar…
Di ujung tiang tertinggi…
Di Indonesiaku ini
Merah putih teruslah kau berkibar…
Ku akan selalu menjagamu…
Dan saya Pandu Rahayu, dengan yakin dan berani akan selalu ada untukmu…
Sekali lagi, Terimakasih Negaraku…
Dwi warnamu akan selalu berkibar dengan gagahnya…
Dan kamu akan selalu menjadi Tanah Airku yang luar biasa
Dan kamu satu, kamulah INDONESIA
Dariku yang selalu mencintai dan bangga padamu
PANDU RAHAYU
Apa kabar negaraku…?
Hari ini aku kangen banget sama kamu, Terimakasih ya, karena disinilah aku dan semua keluargaku tinggal, sahabatku, saudaraku, teman, cinta dan semuanya…
Negaraku, aku rindu sekali dengan dirimu, rindu dengan kelembutan hati para penghuni tanah airmu, rindu tentang nilai nasionalisme yang selalu tertancap dalam hati setiap pnghunimu ketika dwi warnamu dikibarkan, rindu akan semangatnya para mahasiswa yang selalu membela aspirasi rakyat…
Rindu dengan kemerdekaanmu…
Negaraku, mungkin aku belum bisa berbuat banyak untukmu, mungkin aku bekum bisa mengharumkan tanah airmu, tapi aku janji suatu saat nanti aku akan membuat dirimu dikenal oleh semua orang berkat jasaku… aku bersumpah demi dirimu…
Negaraku, aku janji, aku tidak akan pernah lagi meneteskan air mata karena apa yang terjadi di dalam tubuhmu belakangan ini, aku akan terus tersenyum dan terus bangga padamu…
Negaraku, sangat berat bila harus menerima kenyataan yang ada dalam tubuhmu saat ini, tapi sekali lagi aku tidak akan pernah malu untuk membelamu, mau sehancur apapun dirimu, sebobrok apapun orang-orang yang memimpinmu, tetap Indonesiaku yang kubanggakan…
Negaraku, inget gak waktu itu tanahmu aku tikam dengan belatiku guna menancapkan tiang bendera kelompok Pencinta Alam yang aku ada sebagai anggotanya, aku tidak tau saat itu kamu merasakan sakit seperti apa, tapi di puncak gunung itu aku yakin kamu merasa tersakiti oleh tajamnya belatiku, maafkan aku ya…
Negaraku, inget gak waktu itu aku pernah membuat airmu tersendat karena sampah plastik yang kubuang ketika aku pulang dari sekolah, aku tidak bisa membayangkan betapa sakitnya tenggorokanmu ketika air yang mengalir itu aku sumbat dengan sampah-sampah kotor itu, maafkan aku negaraku, maafkan aku Indonesia…
Negaraku, mungkin itu hanya aku, tapi aku yakin diluar sana ada yang lebih banyak lagi berbuat tidak adil padamu, maafkan mereka negaraku, ampuni mereka negaraku, do’akan mereka supaya mereka sadar kalau apa yang mereka lakukan itu salah…
Do’akan mereka negaraku, jangan kau marah pada mereka, karena mereka juga mungkin tidak tau setan apa yang merasuki mereka?
Tapi aku yakin, tanpa aku meminta maaf padamu juga, kamu sudah sangat sayang padaku, setiap hari kau memberiku warna langit yang indah, setiap hari kau memberiku udara yang sejuk, setiap hari kau memberiku udara yang luar biasa segarnya, sehingga aku tidak pernah merasa tersesak, bahkan setiap hari airmu aku teguk dengan penuh semangat dan tanahmu aku pijak dari semenjak dulu sampai sekarang dan kau masih tetap kokoh…
Negaraku, kau memang terlalu baik padaku…
Beberapa bulan yang lalu aku berangkat ke ibu kotamu, aku datang ke bundaran HI, melihat patung selamat datang, dan pada waktu berkumpul lebih dari lima puluh ribu wargamu untuk memperingati hari kebangkitan moral bangsa, aku terharu pada waktu itu, karena masih banyak orang-orang yang mencintaimu karena-NYA…
Negaraku, mungkin aku bukan termasuk pejuang reformasi atau pejuang kemrdekaanmu, tapi aku selalu cinta padamu, percaya dech…. Hehehehe
Negaraku, kamu selalu bilang kepadaku “bhineka tunggal ika” yang berarti “berbeda-beda tetapi tetap satu jua”, ya itulah kamu negaraku, begitu banyak pulau yang ada dalam pangkuanmu, begitu banyak bahasa yang kau pegang, adat yang kau jungjung, budaya yang kau jaga, serta bangsa yang kau lindungi, tapi kau tetap mempertahankan semuanya dan membentengi mereka dengan benteng INDONESIA…
Negaraku, aku tau beberapa waktu belakangan ini terjadi bencana besar menimpa dirimu, di Sumatera, di Merapi, dan di Wasior, dan aku melihat kehancuran demi kehancuran disana, tidak sedikit nyawa yang hilang, dari berita-berita juga banyak diceritakan kerusakan yang dahsyat dimana-mana, tapi yang membuat aku bangga dan selalu meneteskan air mata yaitu rakyatmu, mereka dari segala lapisan dengan cepat mengirim bala bantuan apa saja. Sumbangan yang di buka oleh beberapa statsiun TV hanya dalam hitungan jam bisa terkumpul mencapai belasan milyar.
Aku bahkan sampai geleng-geleng kepala sendiri seklaigus bangga, ternyata dirimu masih ada, rakyatmu yang kata dunia di anggap sebagai manusia yang acuh tak acuh ternyata masih suka membantu satu sama lain, dimana-mana, di seluruh kota besar di Indonesia posko kemnusiaan untuk bantuan berdiri di jalan-jalan, bahkan murid SD dan TK ikut mengumpulkan sumbangan. Aku sampai terharu sendiri, sampai kaget sendiri. Ternyata bencana yang kau rasakan ini mampu memberikan banyak pelajaran berharga dan memberitahukan pada dunia kalau rakyat di Indonesia masih merasa satu, Tanah Air ini masih ada, setiap orang masih peduli saudara sebangsanya.
Negaraku, pernah ada rakyatmu yang bilang kepadaku, “ mudah untuk menjadi sarjana yang baik, ahli hukum yang baik, guru yang baik, arsitek yang baik, pebisinis yang baik, bahkan mentri yang baik, tapi susah sekali menjadi orang yang baik. Karena itu aku hanya ingin menjadi orang baik dan sangat baik bahkan lebih dari sekedar baik, aku ingin menjadi orang yang berguna, orang yang berguna di atas yang terbaik, untuk dirimu….
Aku sambil nulis sambil denger lagu juga ya, hehehehehe
Open File… my music… lagu nasionalis-cokelat-Bendera
Speaker selected… play… Bendera. Cokelat.
Biar saja ku tak sehebat matahari
Tapi slalu kucoba tuk menghangatkanmu
Biar saja ku tak setegar batu karang
Tapi slalu kucoba tuk melindungimu
“Suatu kehormatan bagiku bisa hidup dalam pangkuan ibu pertiwimu, saya Pandu Rahayu seseorang yang mencintai Tanah Air ini…”
Biar saja ku tak seharum bunga mawar
Tap selalu kucoba tuk mengharumkanmu
Biar saja ku tak seelok langit sore
Tapi selalu kucoba tuk mengindahkanmu
“Sekali lagi saya Pandu Rahayu, dengan bangga mencintaimu Indonesiaku, mencintaimu sepenuhnya… saya mencintai megri indah ini dengan gugusan pulaunya sampai saya mati dan menyatu dengan tanah tercinta ini.”
Kupertahankan kau… demi kehormatan bangsa…
Kupertahankan kau… demi tunmpah darah…
Semua pahlawan-pahlawanku…
“dan selama ribuan langkah kaki ini, selama hati ini bertekad, hingga semuanya bisa terwujud sampai disini, takkan pernah sekalipun aku menyerah mengejar mimpiku, saya Pandu Rahayu, saya mencintai tanah ini dengan seluruh hati saya.”
Merah putih teruslah kau berkibar…
Di ujung tiang tertinggi…
Di Indonesiaku ini…
“saya Pandu Rahayu… saya bangga bisa berada disini bersama para rakyatnya, saya akan mencintai tanah air ini seumur hidup saya, saya akan menjaganya, dengan apapun yang saya punya, saya akan menjaga kehormatannya seperti saya menjaga diri saya sendiri. Seperti saya akan selalu menjaga mimpi-mimpi saya terus hidup bersama tanah air tercinta ini.”
Merah putih… teruslah kau berkibar…
Di ujung tiang tertinggi…
Di Indonesiaku ini
Merah putih teruslah kau berkibar…
Ku akan selalu menjagamu…
Dan saya Pandu Rahayu, dengan yakin dan berani akan selalu ada untukmu…
Sekali lagi, Terimakasih Negaraku…
Dwi warnamu akan selalu berkibar dengan gagahnya…
Dan kamu akan selalu menjadi Tanah Airku yang luar biasa
Dan kamu satu, kamulah INDONESIA
Dariku yang selalu mencintai dan bangga padamu
PANDU RAHAYU
Tuesday, November 30, 2010
Saturday, November 27, 2010
Anak Jalanan, Pemulung dan Pengemis ( Potret Kehidupan yang Kadang Terlupakan )
Di bawah sinar lampu - lampu yang menghiasi jalanan kota ini aku melihat mereka terduduk lesu, menghapus peluh yang menetes dan membasahi kepala mungil mereka...
Entah, apa yang telah mereka lakukan sehingga peluh membanjiri wajah polos mereka...
Entah, apa yang mereka pikirkan, sorot mata mereka kosong, seakan - akan tak ada harapan dalam hidup mereka...
Jalanan adalah rumah mereka...
Jalanan adalah tempat mereka mencari nafkah...
Tapi, jalanan juga mengancam keselamatan mereka...
Jalanan memberikan efek negatif pada mereka...
Kadangkala aku heran melihat pemimpin bangsa ini...
Mereka sibuk mengklaim bahwa angka kemiskinan di Indonesia berkurang...
Padahal, seandainya mereka lihat, banyak sekali warga yang hidupnya kekurangan,,,
Banyak warga yang tidak punya rumah...
Sungguh aneh sekali bangsa ini...
Lihat...
Mereka sibuk mencari uang hanya untuk makan...
Mereka rela berpanas - panasan bahkan berkejar2an dengan Satpol PP untuk menyambung hidup...
Sementara pemimpin - pemimpin kita pergi ke luar negeri atas nama rakyat...
Hah???
Atas nama rakyat???
Bukan atas nama rakyat, tapi "DENGAN MENGGUNAKAN UANG RAKYAT"...
Apa yang sebenarnya ada di pikiran mereka???
Daripada mereka ke luar negeri, bukankah lebih baik uang itu digunakan untuk kesejahteraan rakyat,,,
Mereka berkata bahwa mereka adalah abdi negara,,,
Baik, seandainya mereka abdi negara, aku tantang kalian wahai pemimpin rakyat yang duduk baik di badan legislatif maupun eksekutif...
Seandainya kalian tidak dibayar, apakah masih ada yang akan berbondong2 mencalonkan diri sebagai wakil rakyat atau bahkan presiden sekalipun???
Masih adakah???
Pasti mereka berdalih dengan jawaban klasik. " IKHLAS BUKAN BERARTI GRATIS..,"
Lalu, apakah seorang abdi negara selalu identik dengan hidup bermewah - mewahan???
Sebenarnya, apa yang kalian dapat dari hidup mewah???
Bukankah kalian digaji oleh rakyat???
Lihatlah kalimat ini wahai pemimpin - pemimpin bangsa ini:
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
(surat Al-Hadiid ayat 20-23)
Siapa sebenarnya yang menjadi teladan bagimu???
Bukankah rasulullah???
Lalu, mengapa kalian tidak mau mengikuti jejak rasul???
Lihatlah kalimat ini:
Ibnu Mas’ud ra. melihat Rasulullah saw. tidur di atas kain tikar yang lusuh sehingga membekas di pipinya, kemudian berkata, ”Wahai Rasulullah saw., bagaimana kalau saya ambilkan untukmu kasur?” Maka Rasulullah saw. menjawab, ”Untuk apa dunia itu! Hubungan saya dengan dunia seperti pengendara yang mampir sejenak di bawah pohon, kemudian pergi dan meninggalkannya.” (HR At-Tirmidzi)
Bukankah sikap seperti itu yang seharusnya kita lakukan???
Mungkin inilah yang menyebabkan kemunduran Islam...
Karena kita telah meninggalkan tuntunan Rasul...
Sahabat, kadang kita memang melupakan mereka...
Kadang kita menganggap bahwa mereka adalah anak berandalan yang seharusnya dijauhi...
Seandainya kalian tahu kehidupan mereka...
Seandainya kalian tahu perjuangan mereka...
Dan seandainya kalian bisa melihat senyum mereka...
Kalian akan benar - benar bahagia...
Karena kalian melihat senyuman yang tulus dari bibir mereka...
Bila kalian ingin tahu siapa sebenarnya mereka, maka sempatkanlah mengobrol dengan mereka,,,
Kalian akan temukan sesuatu dalam diri mereka...
Sahabat2, di bawah ini ada gambar - gambar yang aku ambil dari mbah google...
Semoga bisa membuka hati semua orang yang membaca tulisanku ini,,,
ANAK JALAN, PEMULUNG DAN PENGEMIS ( POTRET KEHIDUPAN YANG TERLUPAKAN )









Entah, apa yang telah mereka lakukan sehingga peluh membanjiri wajah polos mereka...
Entah, apa yang mereka pikirkan, sorot mata mereka kosong, seakan - akan tak ada harapan dalam hidup mereka...
Jalanan adalah rumah mereka...
Jalanan adalah tempat mereka mencari nafkah...
Tapi, jalanan juga mengancam keselamatan mereka...
Jalanan memberikan efek negatif pada mereka...
Kadangkala aku heran melihat pemimpin bangsa ini...
Mereka sibuk mengklaim bahwa angka kemiskinan di Indonesia berkurang...
Padahal, seandainya mereka lihat, banyak sekali warga yang hidupnya kekurangan,,,
Banyak warga yang tidak punya rumah...
Sungguh aneh sekali bangsa ini...
Lihat...
Mereka sibuk mencari uang hanya untuk makan...
Mereka rela berpanas - panasan bahkan berkejar2an dengan Satpol PP untuk menyambung hidup...
Sementara pemimpin - pemimpin kita pergi ke luar negeri atas nama rakyat...
Hah???
Atas nama rakyat???
Bukan atas nama rakyat, tapi "DENGAN MENGGUNAKAN UANG RAKYAT"...
Apa yang sebenarnya ada di pikiran mereka???
Daripada mereka ke luar negeri, bukankah lebih baik uang itu digunakan untuk kesejahteraan rakyat,,,
Mereka berkata bahwa mereka adalah abdi negara,,,
Baik, seandainya mereka abdi negara, aku tantang kalian wahai pemimpin rakyat yang duduk baik di badan legislatif maupun eksekutif...
Seandainya kalian tidak dibayar, apakah masih ada yang akan berbondong2 mencalonkan diri sebagai wakil rakyat atau bahkan presiden sekalipun???
Masih adakah???
Pasti mereka berdalih dengan jawaban klasik. " IKHLAS BUKAN BERARTI GRATIS..,"
Lalu, apakah seorang abdi negara selalu identik dengan hidup bermewah - mewahan???
Sebenarnya, apa yang kalian dapat dari hidup mewah???
Bukankah kalian digaji oleh rakyat???
Lihatlah kalimat ini wahai pemimpin - pemimpin bangsa ini:
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
(surat Al-Hadiid ayat 20-23)
Siapa sebenarnya yang menjadi teladan bagimu???
Bukankah rasulullah???
Lalu, mengapa kalian tidak mau mengikuti jejak rasul???
Lihatlah kalimat ini:
Ibnu Mas’ud ra. melihat Rasulullah saw. tidur di atas kain tikar yang lusuh sehingga membekas di pipinya, kemudian berkata, ”Wahai Rasulullah saw., bagaimana kalau saya ambilkan untukmu kasur?” Maka Rasulullah saw. menjawab, ”Untuk apa dunia itu! Hubungan saya dengan dunia seperti pengendara yang mampir sejenak di bawah pohon, kemudian pergi dan meninggalkannya.” (HR At-Tirmidzi)
Bukankah sikap seperti itu yang seharusnya kita lakukan???
Mungkin inilah yang menyebabkan kemunduran Islam...
Karena kita telah meninggalkan tuntunan Rasul...
Sahabat, kadang kita memang melupakan mereka...
Kadang kita menganggap bahwa mereka adalah anak berandalan yang seharusnya dijauhi...
Seandainya kalian tahu kehidupan mereka...
Seandainya kalian tahu perjuangan mereka...
Dan seandainya kalian bisa melihat senyum mereka...
Kalian akan benar - benar bahagia...
Karena kalian melihat senyuman yang tulus dari bibir mereka...
Bila kalian ingin tahu siapa sebenarnya mereka, maka sempatkanlah mengobrol dengan mereka,,,
Kalian akan temukan sesuatu dalam diri mereka...
Sahabat2, di bawah ini ada gambar - gambar yang aku ambil dari mbah google...
Semoga bisa membuka hati semua orang yang membaca tulisanku ini,,,
ANAK JALAN, PEMULUNG DAN PENGEMIS ( POTRET KEHIDUPAN YANG TERLUPAKAN )
Subscribe to:
Posts (Atom)

